Lanjut ke konten

Seks “Tiga Rettong” ala ABG Palopo

Maret 5, 2010
tags: ,

pelacur

illustrasi: metropolis.com

BISNIS seks di Kota Palopo kian memiriskan, karena berkembang bagai cendawan di musim penghujan. Yang menguatirkan, sebagian besar pelaku seks instan ini masih anak di bawah umur dan berstatus pelajar. Ada juga beberapa orang adalah dara kampus.

Namun, di balik kian maraknya bisnis lendir di Palopo sekarang ini, ada fenomena yang begitu menarik, yakni tampilnya germo-germo baru mendominasi dunia kenikmatan bagi kaum lelaki itu. Germo-germo baru yang muncul itu, sebagian besar germo banci yang menguasai jaringan perempuan ‘beke-beke’ dari kelas pelajar sampai dara kampus.

Saya pernah melakukan investigasi mengenai jaringan germo banci yang melibatkan ABG (anak baru gede) sebagai penyedia seks instan. Hasilnya sungguh memiriskan, karena ternyata jumlah germo banci di kota ‘Idaman’ ini mencapai puluhan orang yang setiap orang memiliki lebih dari satu orang ‘anak asuh’ yang rata-rata masih berusia belia. Dari investigasi selama dua pekan tersebut, germo banci sangat rapi dan terorganisir dalam melakoni bisnis lendir ini.

Saking rapinya, mereka belum terendus aparat kepolisian? Salah seorang germo banci yang khusus menangani ‘beke-beke’ (sebutan bagi ABG bispak/bisa dipakai, Red) dari kalangan pelajar, mengaku memiliki empat sampai lima ‘anak asuhnya’ yang on call setiap saat. “Kalau ada yang mau booking, tinggal telpon saja,” katanya. Peranan germo yang tidak lain mucikari ini sangat penting dalam bisnis seks di Kota Palopo. Mereka yang memasarkan dan mengatur transaksi seks dengan pria hidung belang.

Di tangan germo inilah, nilai jual seorang wanita penghibur bisa menjadi sangat bernilai atau harganya sesuai pasar. Karena gaya bicaranya yang lemah gemulai dan meyakinkan, serta bisa menjual dengan harga tinggi, banyak perempuan penghibur dari kalangan pelajar, termasuk dara kampus lebih tertarik dicomblangi banci daripada ‘mami’ atau germo perempuan, atau ‘papi’ atau germo pria. Seorang germo banci, sebut saja namanya Biseks, sangat pandai menjual ‘anak asuhnya’ dengan harga tinggi. Ia yang selalu memarkir tiga sampai empat ‘anak asuhnya’ di salon miliknya, mengaku seringkali bertransaksi dengan pria-pria bersaku tebal via handphone .

“Anak sekolah tarifnya paling murah tiga rettong (maksudnya, Rp300 ribu) di luar tarif hotel untuk short time. Tapi, tarif rata-rata empat sampai lima rettong,” cerita Biseks ditemui di salon miliknya. Biseks mengaku tak perlu repot-repot mencari tamu dengan mejeng di kafe sekelas Boulevard Cafe atau Marcopolo Club di kawasan Labombo, atau tempat hiburan malam lainnya, tetapi cukup menunggu di salon.

“Saya tinggal nunggu call dari beberapa pria yang butuh teman tidur, kalau tarif sepakat, maka anggota saya langsung meluncur di hotel,” katanya. Bahkan, Biseks mengaku bisa dikontak sampai pukul 22:00 malam, dan kalau tarif sesuai, maka ‘anak asuhnya’ siap untuk diajak berkencan sekali mendayung atau short time di hotel. “Cuma tidak bisa diajak kencan semalaman, karena takut dicari orangtuanya, ya cukup short time saja,” kilah Biseks.

Lain lagi dengan Amarah, sebut saja begitu namanya. Germo banci ini terbilang berani menawarkan ‘anak asuhnya’ kepada pria hidung belang yang telah dikenalnya. Ia terkadang menelpon atau mengirimkan SMS kepada pria untuk menawarkan ‘anak didiknya’. Beberapa waktu lalu, misalnya, nada penerima SMS ponsel saya berbunyi. Sebuah SMS diterima. Isi SMS-nya begini: “Kak, kita temannya Jum kah? Saya punya teman yg butuh sekali uang untuk bayar kos? Kalau kita mau, kami tunggu di warnet dekat Kantor BCA. Secepatnya ya?” Kami yang memang lagi melakukan investigasi mengenai bisnis lendir ‘beke-beke’ di Palopo ini, tertarik dengan SMS itu dan menemui si pengirim SMS itu.

Singkatnya, Amarah bersama seorang gadis berusia sekira 16 tahun, tengah berdiri di depan warnet yang berlokasi di jalan Mangga, kawasan terminal induk Palopo. “Teman saya ini butuh Rp 400 ribu buat bayar kost, kalau setuju langsungmi ke Andini saja,” kata Amarah. Yang dimaksud Amarah dengan Andini, yakni nama sebuah Wisma yang berlokasi di jalan Pongsimpin, jalur utama menuju Latuppa.

Di wisma ini, Amarah kerapkali mangkal bersama beberapa ‘beke-beke’ yang diasuhnya. Gadis belia yang ditawarkan Amarah itu, Indah (nama samaran, Red), masih berstatus pelajar kelas dua salah satu SMA swasta di kota ini. Ia mengaku terpaksa menjadi ‘beke-beke’ karena terpengaruh teman-temannya setelah ia sering diajak clubbing ke sebuah THM ternama di kawasan Labombo. “Uang yang saya dapatkan sekali kencan, selain dipakai ke THM untuk senang-senang, sebagian dipakai beli pakaian, pulsa, termasuk bayar kos,” cerita Indah.

Beberapa ‘beke-beke’ yang ditemui mengaku memakai banci sebagai mucikari, karena selain bisa menjual dengan harga tinggi, pergaulannya sangat luas, dan juga bisa menjadi teman curhat yang dapat dipercaya. Hanya saja, germo banci ini ibarat ‘ular berbisa’ bagi anak asuhnya. Sebab, para ‘beke-beke’ yang telah berbisnis dengan germo banci akan sulit melepaskan diri. Mereka mengancam akan membeberkan rahasia ‘anakn asuhnya’ jika melanggar komitmen. Salah satu komitmennya, gadis ‘beke-beke’ tidak diperkenankan melakukan transaksi sendiri dengan pria hidung belang.

“Saya tidak bisa cari pria tanpa melalui perantara Amarah, karena saya takut rahasiaku dibongkarnya. Ia selalu ancam, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa karena dia punya foto saya saat melayani pria hidung belang sebagai buktinya,” aku Indah.

Lain lagi dengan germo banci satu ini, sebut saja namanya Tiara. Ia juga punya ‘anak asuh’ masih berstatus pelajar, yang tidak lain teman sekolahnya sendiri. Bila germo banci lainnya sering mangkal di salon, Tiara dan ‘anak asuhnya’ lain lagi. Modus operandi Tiara berbeda dengan germo-germo banci lainnya. Biasanya pria hidung belang yang sering bertransaksi dengan Tiara umumnya pengusaha berduit yang ingin berkencan dengan ABG. Modus biasanya melalui dua tahapan, pertama begitu tamu order lewat telepon, ia akan mengajak tamu itu untuk terlebih dahulu bertemu di sebuah rumah bernyanyi di kota ini, atau bertemu di rumah makan.

Pada saat bertemu itulah biasanya Tiara memperkenalkan beberapa orang teman sekolahnya yang bisa diajak kencan. Cuma syarat kedua, sebelum memilih satu dari beberapa temannya, si pria terlebih dahulu mengajak Tiara Cs untuk bernyanyi satu dua jam. Setelah itu, si pria memilih satu ABG yang disukainya bisa langsung meluncur ke hotel dan Tiara tetap menunggu di rumah bernyanyi. Cerita tentang lika-liku bisnis seks yang melibatkan germo banci ini merupakan fenomena realita yang terjadi di kota Palopo. Betapa moral generasi muda di daerah ini terancam, apalagi bisnis seks tidak akan berhenti selama ada kebutuhan dengan dunia kesenangan dan kenikmatan.

Salam Kompasiana

Baca juga 10 Artikel Pilihan Lainnya:

  1. Pidato SBY Membingungkan
  2. Atas Nama Cinta, Saya Hamil dan Dia Dipenjara
  3. Mengintip Malam Pertama Pengantin Turki
  4. Menemukan Tuhan Lewat Seks
  5. Gila! ML Berjamaah buat Cetak Rekor Dunia
  6. Duh! 62,7 % Siswi Sudah tak Perawan?
  7. Gelisah Menanti Saat Bercinta
  8. 28% Pria Indonesia Ketagihan Nonton Film Porno?
  9. Wow! Orgasme Ratusan Kali Sehari?
  10. Mengapa Demo Mahasiswa Makassar Sering Rusuh?
About these ads
4 Komentar leave one →
  1. alice pngen gituan permalink
    Maret 5, 2010 11:14 pm

    banci koq ikut2n jadi germo juga yah…..????
    apa mungkin sekalian mangkal…???? hemh….

  2. Maret 7, 2010 9:17 am

    kasihan adek-adek kita wanita yang tidak tahu diri, mahkota masa sech diberi sembarangan cuma untuk uang segitu, kalau cuma btuh segitu ngapai mesti berdosa, sex segala… minta pada saya boleh aja. duh kasihan negeriku, sesamaku, saudariku..

Lacak Balik

  1. Ting Posting « Berbuat Terbaik Dan Berbahagia Hari Ini
  2. Barat dan Timur Palopo | Dekker Palopo

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: