Lanjut ke konten

Selingkuh Lelaki Jawa dan Gadis Cina

Maret 9, 2010

pangeran

Lukisan berjudul penangkapan Pangeran Diponegoro, salah satu mahakarya Raden Saleh yang termahsyur (foto diunduh dari google.com)

SIAPA sih yang tidak mengenal sosok Pangeran Diponegoro? Sejarah kita mencatatnya sebagai Ratu Adil yang mengobarkan perang suci di jalan Allah. Ia memantik lahirnya Perang Jawa yang menjadi tanda dari perlawanan dahsyat bangsa Jawa terhadap kehadiran VOC. Ia menjadi sosok paling ditakuti VOC yang ditangkap dengan cara dijebak. Namun, tahukah kita bahwa ulama yang digambarkan suci tersebut ternyata beberapa kali berselingkuh dengan perempuan keturunan Cina? Tahukah kita bahwa Pangeran Diponegoro sendiri yang pertama membangkitkan kebencian pada etnis Cina di Jawa dan menuduh perempuan Cina dibalik kekalahannya?

Sejarah kita memang sering tidak utuh mencatat sesuatu. Kita sering disodorkan satu sosok pahlawan yang seolah jatuh dari langit, tanpa mengenali sang pahlawan secara utuh. Kadang kita hanya mengetahui kenyataan sepenggal-sepenggal, dan kenyataan yang sepenggal itulah yang kemudian membanjiri kesan kita atas satu tokoh sejarah. Dalam hal Pangeran Diponegoro, yang disebut sebagai pengobar perang di jalan Allah, persepsi kita banyak dipengaruhi puisi Chairil Anwar yang berjudul Diponegoro. Dalam satu kalimatnya, Chairil mengatakan “Dan bara kagum menjadi api// Di depan Sekali Tuan Bersaksi…….// Pedang di kanan // Keris di kiri // …… Sekali berarti Sudah Itu Mati…”

Di luar kisah-kisah dan puisi yang heorik itu, seberapa tahukah kita tentang sosok Ratu Adil yang menggetarkan orang Jawa ini? Tahukah kita bahwa sosok ini adalah ulama sekaligus pemain seks yang hebat hingga beberapa kali selingkuh tanpa sepengetahuan istrinya?

Majalah Tempo edisi 1-7 Maret 2010 ini, menurunkan laporan tentang pementasan Opera Diponegoro yang disutradari Sardono W Kusumo. Digambarkan bahwa di tengah letusan Gunung Merapi tahun 1822, di tengah-tengah teriak panik penduduk Jawa yang hendak mengungsi, Diponegoro justru menolak mengungsi. Di tengah panik itu, ia malah mengajak istrinya untuk melakukan seks. What? Kita bisa menuduh Sardono seorang pembual. Masak, di tengah kepanikan itu, tokoh sekaliber Diponegoro justru melakukan seks. Kita mungkin menuduh Sardono sebagai pembual. Tapi, kata Sardono, –sebagaimana dicatat Tempo– ia terinsprasi oleh Babad Diponegoro, sebuah otobiografi Pangeran Diponegoro yang ditulis saat ditahan Belanda di Manado, tahun 1830.

Sayang sekali, liputan Tempo itu amat singkat. Hanya sedikit saja menyinggung ikhwal perselingkuhan dengan gadis Cina. Tapi jika kita membaca buku yang ditulis sejarawan Peter Carey yang judulnya Changing Javanese Perceptions of the Chinese Communities in Central Java, kita bisa menemukan perspektif yang lebih jelas tentang kegandrungan seks sang pangeran, yang kemudian menjadi benih awal prasangka orang Jawa terhadap gadis Cina. Studi Carey didasarkan atas telaah yang mendalam terhadap Babad Diponegoro yang dilakukannya selama 40 tahun.

Menurut Carey, Catatan-catatan itu menunjukkan sisi manusiawi Diponegoro yang tidak banyak diketahui orang. Catatan ini berkisah sesuatu dengan amat jujur dalam aksara Pegon, modofikasi aksara Jawi yang diadopsi dari huruf Arab. Ternyata sang pangeran yang dekat dengan para kiai pesantren ini adalah penggemar anggur Afrika, Grand Constantia. Meski Islam mengharamkan alkohol, Diponegoro berdalih bahwa anggur itu adalah obat. Bagi saya sendiri, catatan ini menunjukkan bahwa Dipengoro bukanlah seorang yang taat dalam menjalankan syariat. Pada banyak sisi, ia justru tunduk patuh pada hasrat duniawinya. Termasuk dalam soal selingkuh dengan gadis keturunan Cina.

Selingkuh dengan Gadis Cina

cina

lukisan seorang gadis cina (illustrasi)

Catatan yang lebih mencengangkan adalah perselingkuhan dengan gadis Cina. Diponegoro mengatakan, ia terbius kecantikan seorang Gadis Cina yang ditemuinya sebelum perang besar di Gowok, di bulan Oktober 1826. Perempuan Cina itu lalu dijadikannya sebagai pemijat yang melayani hasrat nafsu sang pangeran. Kemolekan gadis Cina pada masa itu tersohor hingga membuat sang pangeran mabuk kepayang. Pada masa ini, banyak warga keturunan Cina perlahan-lahan mendominasi ekonomi di Jawa khususnya penarikan pajak gerbang tol, dan juga penjualan candu. Banyak pula gadis Cina yang dipekerjakan di tempat hiburan malam, sebagai pemijat para pangeran Jawa, termasuk Diponegoro.

Pada malam sebelum pertempuran, Diponegoro sempat-sempatnya berhubungan seks hingga subuh menjelang. Babad Dipnegoro juga mencatat episode perselingkuhan Diponegoro dengan seorang dukun bernama Asmaratruna. Ia menjalin hubungan seks berulang-ulang, sesuatu yang membuatnya malu pada istrinya sendiri.

Dan gara-gara seks terlarang itu, ilmu kekebalannya jadi hilang. Ia melanggar perintah Tuhan sehingga kekebalannya jadi lenyap. Pasukan Jawa yang dipimpinnya kocar-kacir dan kehilangan daya tempur. Bahkan iparnya Sasradilaga juga kalah dalam pertempuran, gara-gara malam sebelum pertempuran melakukan hubungan seks dengan gadis Cina.

fdsag

illustrasi

Aneh bin ajaib, Diponegoro lalu menyalahkan gadis Cina sebagai biang kekalahan. Ia lalu mengeluarkan larangan untuk menikah dengan gadis Cina. Ia melarang hubungan erat dengan Cina dan mulai memperlakukan orang Cina sebagai musuh, sebagaimana halnya bangsa Belanda. Ia membangun tembok tebal parasangka yang kemudian menjadi endapan selama bertahun-tahun setelah meninggalnya, bahkan hingga kini. Ia memunculkan mitos yang membuat lelaki Jawa takut menikahi gadis Cina. Kata sejarawan Denys Lombard, apa yang dilakukan Pangeran Diponegoro menjadi benih gagasan rasialis yang kemudian mempengaruhi persepsi orang Jawa terhadap orang Cina. Sebagaimana dicatat Carey, Lombrad mengatakan Diponegoro telah menyebarkan ideologi berbahaya yang memasukkan orang Cina sebagai kelompok kafir. Padahal, yang mestinya dijinakkan adalah daya seks sang pangeran yang amat dahsyat.

Kini, ratusan tahun setelah Diponegoro meninggal, apakah prasangka itu masih menjadi sedimen yang menebal?

Pulau Buton, 9 Maret 2010

Baca juga 10 Artikel Pilihan Lainnya:

  1. Seni, Seks, dan Revolusi?! Kenapa Tidak?!
  2. Atas Nama Cinta, Saya Hamil dan Dia Dipenjara
  3. Mengintip Malam Pertama Pengantin Turki
  4. Menemukan Tuhan Lewat Seks
  5. Biarkan Payudaraku Tetap Basah!
  6. Duh! 62,7 % Siswi Sudah tak Perawan?
  7. Bugil Massal, Seni Pembangkit Syahwat
  8. 28% Pria Indonesia Ketagihan Nonton Film Porno?
  9. Wow! Orgasme Ratusan Kali Sehari?
  10. Seks “Tiga Rettong” ala ABG Palopo
16 Komentar leave one →
  1. Maret 9, 2010 2:27 am

    apakah benar seperti itu?benarkah itu fakta sejarah? takut jadi hoax dan pencemaran sejarah ajah…

  2. Dio permalink
    Maret 9, 2010 6:39 am

    Ada bukti lebih terinci gk pak??? kok kalau di baca gk ada sumber jelasnya…

    • Maret 9, 2010 3:16 pm

      saya kan sudah sebutkan di atas. mulanya saya baca Tempo. terus, saya teringat buku karya Changing Javanese Perceptions of the Chinese Communities in Central Java (Peter Carey) yang banyak mengkaji soal ini. kebetulan pula, buku karya Carey itu sudah diterbitkan Komunitas Bambu dalam bahasa Indonesia

  3. Maret 9, 2010 7:42 am

    fitnah yang keji

    • Maret 9, 2010 3:16 pm

      tunjukin mana yang fitnah dan mana yang benar? apa anda pernah baca Babad Diponegoro?

  4. Maret 9, 2010 11:15 am

    maap sya ragu dngn ap yg anda tulis menurut sya itu trlalu didramatisir ap anda prnah baca sndiri suber2′y atau baru kt’y yg kmudian anda tulis dsini…..tp sya salut snng dnn gya bhs yg anda pakai

    • Maret 9, 2010 3:17 pm

      dalam tulisan ini sangat jel;as. saya baca Tempo, trus teringat dengan bacaan karya Peter Carey. Malah, saya masih mengoleksi buku itu yang terbit dalam bahasa Inggris. Buku itu juga sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Komunitas Bambu

  5. Maret 9, 2010 10:03 pm

    heit @Yus,… menarik banget informasi ini.

    sejarah memang menyimpan mistery

  6. Maret 10, 2010 12:57 am

    Menurut saya, artikel ini sangat bagus… untuk mengingatkan kita semua bahwa jangan pernah membuat seseorang menjadi dewa sehingga manusia tidak pernah salah… lagi pula ini bukan masalah benar atau tidaknya… tetapi tanyakan pada diri sendiri… bagaimana kita semua menganggap mereka yang disebut pahlawan? apakah karena perbuatannya yang telah sangat berjasa bagi semua atau karena pribadinya… bila memang dia pahlawan… sejatinya pribadi tidak perlu mendapatkan nilai… nilai bukan dari manusia…

    • adityafacilitator permalink
      Maret 15, 2010 8:05 am

      setuju

    • Maret 16, 2010 6:09 am

      setuju yang atas tapi ga setuju yang bawah. Perbuatannya yang berjasa kita hargai, dan pribadinya apabila baik kita hargai dan contoh pula. anda keliru, pribadi perlu mandapatkan nilai dan nilai itu datang dari manusia karena kita pribadi-pribadi yang hidup di tengah pribadi-pribadi yang lain. kalau baik pribadinya kita nilai baik dan kita contoh kalau jelek ya sebaliknya.

  7. adityafacilitator permalink
    Maret 15, 2010 7:58 am

    saya percaya 100%, dulu waktu kecil, saya belum pacaran wong saya masih SD, ibu saya mengatakan besok kalau besar jangan menikah dengan gadis cina.. kamu nanti akan gagal.. lihat pangeran Diponegoro dan lihat pangeran Rad** dari Mang** yang menjalin asmara dengan gadis cina pemilik roti Or** di kota So** yang akhirnya meninggal sebelum pengangkatan..
    dan … wes.. hmmm.. tidak bisa saya ungkap di sini..

  8. Maret 16, 2010 5:59 am

    Bukan masalah percaya ga percaya yach, itu bisa saja orang dia juga manusia. tapi bisa juga tidak karena si petir ini tidak wawancara langsung dengan si pangeran. dan apakah si babad yang anda punya dan si petir punya itu asli tanpa editan? bla bla bla. Alhmuhim (yg penting) apa sih yang bisa di banggakan dari cino-cino lilit itu, dari jaman baheula sampe sekarang apa yang bisa dibanggakan dari orang-orang cino itu.

    • adityafacilitator permalink
      Maret 16, 2010 4:19 pm

      Masalahnya orang-orang itu banyak yang masih menggaji buruh-buruh yang mana masih saudara-saudara saya..

  9. Maret 31, 2011 5:51 pm

    Tentunya. yang terpenting sekarang jangan melihat dari sisi etnis. Karena selama kita masih bersifat saling membenci, bangsa kita tidak akan maju. Kita harus saling damai dan rukun antara satu dengan yang lain dan tidak saling menyalahkan. Jadi sebagai seorang keturunan cina, posisi saya netral (non blok).

    Karena bagi saya sukses atau tidaknya orang itu tergantung dari “MENTAL ORANG ITU SENDIRI”. kalau dasarnya orangnya malas, meski orang tuanya pengusaha sekalipun, pasti dia akan jatuh miskin. Meski dia adalah seorang pengais sampah, kalau dia giat, tekun, tidak malas, dan kreatif serta mau berubah pola pikirnya, saya percaya dia pasti akan menjadi orang kaya raya.

    Jadi ndk ada kaitannya seperti yang di katakan oleh Sdr. adityafacilitator, wongbulu dan para pemberi komentar lainnya di blog ini.

    Soal perjinahan yang dilakukan seseorang, kita ndk tau itu benar atau tidak. karena kita tidak mengalami hidup di jaman itu. Jadi fakta seperti apa sebenarnya yang terjadi pada jaman itu, lebih baik kita jangan berandai-andai kalau sebenarnya tidak tahu. Biarlah Tuhan yang mengoreksi hal ini, yang terpenting bagi kita yang hidup dijaman modern ini adalah memikirkan keadaan dijaman saat ini (bukan masa lalu).

    Meski banyak orang yang tahu ada kejadian-kejadian pedih di masa lalu yang menimpah saudara-saudara se-etnis dengan saya. Justru kami tidak ingin menoleh kebelakang mengingat-ingat kejadian yang kelam itu, karena yang kami ingin adalah memandang kedepan untuk menyongsong masa depan yang penuh harapan dan kesuksesan serta kemajuan negeri ini.

    Jayalah Negeri ku Indonesia . Salam Pancasila

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: