Skip to content

Manusia Bodoh…!

September 22, 2009

Andy Syoekry Amal

ANDY SYOEKRY AMAL

LELAKI paruh baya itu gelisah. Begitu banyak keingintahuan yang menggulati kepalanya. Ia berupaya untuk mempelajari, ingin tahu dan tahu…. Ia ingin mengungkapkan pengembaraannya di dunia menuju akhirat secara utuh.

Di bumi tempatnya berpijak, ia menengadah ke bintang-bintang. Ia berdiri di puncak bukit, memandang ke ngarai dan lembah yang luas. Lalu, ia menyadari eksistensi dan hakikat dirinya dalam kesemestaan yang maha luas ini. Mungkin seperti sebutir garam di lautan, atau malah setitik debu di gurun sahara.

Ternyata, semakin ia mencari sebuah keberadaan, dirinya pun merasa kian bodoh. Gejolak keingintahuannya malah membuat dirinya semakin tidak tahu, semakin bodoh…! Bahkan begitu bodohnya sampai ia kembali ke titik nol: tidak mengenal dirinya sendiri…!

Saya teringat pesan Socrates yang selalu mengakui bahwa dia seorang yang bodoh sebab dia belum mengenal dirinya sendiri. Socrates menemukan dirinya tidak akan dapat mengetahui sesuatu apapun kecuali kalau dia telah mengetahui dirinya sendiri. Sebab itu ia mengajarkan bahwa manusia haruslah mengenal dirinya lebih dulu.

Dan seperti Socrates, lelaki paruh baya itu ia hanya mampu berkata: “Yang saya tahu adalah saya tak tahu apa-apa…!”

Tapi itulah jenis kemampuan pengetahuan manusia.  Ada orang yang tahu bahwa dia tahu. Ada orang yang tahu bahwa dia tidak tahu. Ada orang yang tidak tahu bahwa dia tahu. Ada orang yang tidak tahu bahwa ia tidak tahu.

Juga itulah jenis kemampuan pengelihatan manusia. Ada orang yang mampu melihat apa yang dapat dilihat oleh mata.  Ada orang yang mampu melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh mata… Ada orang yang tidak mampu melihat apa yang dapat dilihat oleh mata. Ada orang yang tidak mampu melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh mata…

Tetapi penelitian untuk membuktikan “ketidaktahuan” manusia sepertinya tak pernah surut. Tak lagi dengan menengadah, teknologi membuat manusia bahkan ingin menggapai langit.

Mengapa manusia ambisi untuk menggapai langit? Adakah akhirat  bersemayam di sana? Adakah Tuhan bertahta di langit? Adakah jembatan pengembaraan itu membuat keberadaan manusia akan utuh untuk mencapai akhirat dan menuju “Tuhan”?

Entahlah, mungkin manusia berupaya, karena ia tidak tahu. Ia tak tahu karena ia bodoh. Karena bodoh, maka ia ingin tahu. Lalu ia berjuang mengenali dirinya, berperang melawan kebodohannya. Seperti pembaca Kompasiana yang saat ini membaca esai tentang kebodohan saya.

Makassar, 13 September 2009

Salam Kompasiana

ANDY SYOEKRY AMAL

Catatan: kepada mereka yang merasa pintar

Tags: , , , , , , , , , , ,

<!–This entry was posted on Sunday, September 13th, 2009 at 9:53 am and is filed under Filsafat. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site. –>

//

Share on Facebook Share on Twitter
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: