Skip to content

Pemimpin atau Bos?

September 22, 2009

Andy Syoekry Amal

ANDY SYOEKRY AMAL

PRIA berperut tambun, berhidung betet, dan bermata sipit itu adalah “malaikat” para wanita pemuja benda (materialistis) di labirin kapitalisme. Pada sebuah ruang di dunia malam yang gemerlap, saya mendengar orang-orang menyapanya “Bos!”. Diksi yang acap kali saya dengar dari para bawahan: babu, pembantu, jongos, anak buah, kepada majikannya — maupun khalayak umum terhadap pemodal berkantong tebal.

Pada sebait nama, ”Bos” mengingatkan saya pada otobiografi Bung Karno, Menjambung Lidah Rakjat yang ditulis Cindy Adam. Pada Pentjara Bantjeuj (Bab X), Bung Karno menceritakan perkawanannya dengan  tuan Belanda pengawas bui yang bernama “Bos”, yang baik tapi goblok, yang matanya lebam akibat infeksi gara-gara menggosokkan saputangan bekas pakai waktu bercintaan dengan gadis pelacur yang kena penyakit raja singa (sipilis).

“Bos” dalam referensi memori saya adalah film koboi — gembala penunggang kuda, dengan sepatu lancip lengkap dengan roda bergerigi, jins, topi miring, rokok Marlboro, pistol, dan cemeti, di pedalaman Amerika. Juga simbol dalam ontologi pertarungan budaya politik Machiavelis, gembong mafia (narkotika, kasino, dan juga sex) di Sicilia, Las Vegas, dan Hongkong, ikon kekuasaan pada labirin kapitalisme, sapaan yang mungkin ditujukan untuk menunjukkan kepatuhan, rasa tunduk sekaligus sebagai tanda kedekatan.

Tetapi bisa juga berarti sinisme…!

“Bos” di Indonesia adalah balada tentang kemiskinan. Elegi dunia pendidikan yang dieksploitasi, bantuan orang susah yang dikemas sebagai “bantuan operasional sekolah” yang nyatanya juga dikorup, serta pengambilan kebijakan yang tak lagi bijak: rekayasa data, permainan fakta dan kongkalikong pertanggungjawaban keuangan para pejabat.

Di diskotik, gadis-gadis aquarium menyapa tamunya,  “bos…!”. Mantra yang membius, menjebak, bahkan menguras, tetapi kemasannya genit dan menggoda. Rayuan ”bos” si gadis aquarium sama saja berarti: “tuanku tersayang yang banyak uang”.  Artinya, yang disembah sebagai ”tuanku (selaku penguasa yang dapat menciptakan kata) tersayang” dari si gadis di sini adalah ”uang”, dan bukan ”orang”…!

Jika punya kekuasaan, maka kita adalah bos, tetapi belum tentu pemimpin, walaupun pemimpin itu sendiri sudah pasti bos….!

Pemimpin tak mengenal ”giring paksa”,  tindak tanduknya menjadi panutan, ia akan diikuti orang lain. Pengikut yang setia akan memberikannya wibawa, wewenang, dan hak istimewa kepada pemimpin yang didukung. Karena tanpa itu, pemimpin  akan lumpuh.

Pemimpin adalah pandangan ”kualitatif”  sebagaimana dalam Homerus  dan Ilagaligo di Yunani dan di Luwu (Indonesia). Cakupan kepemimpinan adalah gejala universal dalam hidup manusia, bahkan pada hewan: bahwa tidak ada suatu masyarakat, gerakan, atau organisasi bahkan kelompok kecil yang akan mencapai hasil tanpa adanya pemimpin.

Di era terwujudnya sebagian mimpi John Naisbitt di dalam Global Paradox, pada titik di mana percaturan dunia global didominasi persaingan kapitalisme, maka mahkluk yang bernama ”pemimpin” pun semakin langka. Kedudukannya telah digantikan oleh ”bos”. Dan mungkin besok, atau lusa, ”pemimpin” akan hilang dari peradaban. Ia hanya menjadi  seoonggok sejarah usang di tumpukan buku perpustakaan, yang juga sudah sobek-sobek dimakan tikus.

Apakah penguasa negeri ini adalah pemimpin ataukah boss?

Wallahua’lam bissawab..

Makassar, 13 September 2009

Salam Kompasiana,

ANDY SYOEKRY AMAL

Tulisan ini juga dapat dibaca di Kompasiana

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

<!–This entry was posted on Sunday, September 13th, 2009 at 10:26 am and is filed under Budaya, Filsafat, Pendidikan, Sejarah, Sosial. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site. –>

Share on Facebook Share on Twitter
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: