Skip to content

Desember 17, 2009

ADA beberapa kawan yang bertanya kepada saya: Kenapa tulisan-tulisan Anda di Kompasiana selalu ramai dikunjungi dan  dikomentari? Kenapa selalu nangkring di rating tertinggi? Apa rahasianya?

Saya hanya tertawa mendengarnya. Baiklah, saya ingin berbagi pengalaman dengan teman-teman Kompasianer.

Saya menjadi Kompasianer sejak 21 Juli 2009. Belum lama bukan? Saya menulis untuk kesenangan dan memperbanyak teman. Saya ingin bersahabat dengan banyak orang, terlepas dari latar belakang sosial dan ekonominya.

Bahwa tulisan saya banyak dikunjungi dan dikomentari, boleh jadi karena selalu menjalin persahabatan. Saya tidak memilah dan memilih. Semuanya sama. Saya rajin menyapa kompasianer walau hanya menanyakan kabar. Dan ternyata berdampak bagi tulisan saya. Teman-teman rajin berkunjung ke tulisan-tulisan saya. Padahal saya sendiri menilai tulisan-tulisan saya masih jauh dari standar. Itu kalau tidak hendak mengatakan “sampah”. Tidak berkelas. Tapi semuanya itu saya nggak ambil pusing. Itu kan penilaian mereka. Mungkin saja mereka benar, karena saya memang bukan jagoan dalam menulis.

Saya pikir, Kompasiana ini apa bedanya dengan Facebook. Bikin status. Status dimaksudkan untuk berbagi. Lalu tunggu komentar dan saling berbalas. Berbalas komentar ini kan wujud dari interaksi. Di Kompasiana, kan, tagline-nya “sharing-connecting“. Berbagi dan berinteraksi.

Ketika saya masih baru sebagai Kompasianer, terus terang saya selalu membuat tulisan dengan judul yang bombastis. Terinspirasi dengan pengalaman lebih sepuluh tahun menjadi wartawan barangkali, ha ha haaaa. Saya pelajari kecenderungan pembaca saat Kompasiana masih tampilan lama. Wah, hampir setiap hari tulisan-tulisan dengan judul yang seksi mendominasi “Tulisan Terpopuler Hari Ini”. Maka saya pun mencobanya. Saya pikir dalam teori, kan, begitu. Bagaimana bisa dikenal orang kalau biasa-biasa saja. Saya pikir harus tampil beda, walaupun sedikit agak gila…. Ha ha haaa… Dan ternyata teori itu benar. Hampir saban hari tulisan-tulisan saya masuk ke tangga populer.

Tulisan saya tentang kompasianer baru Mariska Lubis misalnya, hanya dalam waktu tiga hari dibaca sampai 12 ribuan, bahkan sampai menghebohkan Kompasiana. Banyak yang terinspirasi untuk menjadikan Mariska sebagai inspirasi tulisan, termasuk Admin Kang Pepih sendiri. Setelah itu, demam Mariska melanda Kompasiana. Tulisan saya yang lain tentang karya Mariska, ada yang saat ini sudah dibaca di atas 22 ribu. Terus terang saat itu saya hanya mengandalkan kekuatan judul dan lead. Saya pikir, judul ini yang mampu menggiring pembaca untuk melihat tulisan. Apalagi ditambah dengan lead yang menggoda, maka pembaca akan penasaran untuk meng-klikk. Ha ha haa….

Suatu ketika, judul tulisan saya yang lain dirubah oleh Admin. Dianggap terlalu provokatif barangkali. Saya tersentak dengan perubahan ini. Saya merasa ada yang tidak beres dengan tulisan saya. Melalui chatting di Facebook, Kang Pepih dengan bijaknya menjelaskan alasan perubahan itu. Saya tahu Kang Pepih sedang menyindir saya, walau dengan kalimat yang begitu lembut. Saya pun menyadari bahwa dengan judul yang lembut pun  jika materi tulisan itu bagus pasti akan dibaca. Jika memang pembaca senang dengan karakter tulisan kita, pasti dicari.

Persoalannya, di Kompasiana saat itu, hal ini masih sulit diwujudkan. Jika tulisan lewat sehari saja, ia akan tergilas blog roll. Kecuali jika masuk dalam “Tulisan Terpopuler Minggu Ini”. Seingat saya, sejak bergabung di Kompasiana hampir setiap minggu tulisan saya juga selalu nangkring di tangga terpopuler tersebut.

Tapi di balik itu, saya merasa semua ini semu. Sepertinya saya berkompasiana hanya untuk menunjukkan dada. Hanya untuk “pore” kata orang Bugis. Saya pun menggeledah diri. Ternyata saya sudah melenceng jauh dari tujuan saya semula.

Begitulah, akhirnya babak baru Kompasiana datang. Tampilannya berubah. Masing-masing Kompasianer memiliki akun tersendiri. Semua tulisan terkumpul jadi satu sehingga mudah ditemukan. Saya pikir ini suatu kemajuan yang sangat pesat. Maka saya pun merubah strategi.

Saya perhatikan pada saat menulis (proses editing), di bagian bawah tulisan ada tags. Saya pikir ini lebih memudahkan lagi karena ternyata 20 tags terbanyak akan nangkring di beranda, dan juga di setiap tulisan yang ada Kompasiana. Saya pun mulai memanfaatkan tags tersebut. Semua tulisan-tulisan saya saya tambahkan tags dengan nama saya. Hasilnya, nama saya muncul dalam tags dengan huruf menonjol dalam 20 tags terbanyak. Beberapa teman Kompasianer meminta  untuk menambahkan tags atas nama saya. Alasannya, biar tulisannya mudah ditemukan. Saya pikir tidak ada masalah. Begitulah akhirnya nama saya mulai dikenal Kompasianer.

Saya kemudian rajin menyambangi Kompasianer baru. Menyapa dengan ucapan selamat datang dan mengajaknya berteman. Setiap ada kesempatan, saya melakukan itu. Saya selalu mengunjungi tulisan-tulisan mereka untuk membaca, berkomentar dan memberikan rating. Walau terus terang saya tidak mau memberi rating yang negatif karena ini bisa membuat suasana tidak nyaman. Karena saya sadari tidak semua penulis bisa menerimanya secara objektif. Dan menurut saya, ini sangat manusiawi. Jadi saya manfaatkan jalur pribadi (Japri) untuk mengingatkan dengan bahasa yang santun, jika ada tulisan dalam pandangan subjektif saya, saya anggap kurang layak. Dan ternyata hampir semuanya menerima dengan baik, bahkan tak jarang disertai dengan ucapan terima kasih segala. Sampai saat ini, hampir setiap hari ada saja teman yang meminta agar tulisannya dinilai. Padahal, saya sendiri juga bingung mau menilai karena tulisan saya sendiri juga masih jauh dari standar. He he heee…

Selanjutnya ruang komentar tulisan saya sepertinya menjadi ajang chatting. Menurut saya inilah ruang untuk berinteraksi agar Kompasianer semakin akrab. Dengan strategi ini, judul tulisan-tulisan saya selalu muncul di halaman beranda Kompasiana sebagai tulisan yang baru ditanggapi. Ini juga membuat banyak yang penasaran untuk masuk dan membaca tulisan saya.

Keakraban  di Kompasiana melahirkan membentuk komunitas maya yang bernama “Negeri Ngotjoleria”. Tapi jangan disalah artikan, komunitas ini untuk siapa saja. Bahkan dengan iseng saya mengatakan barang siapa yang masuk dan berkomentar di tulisan-tulisan humor “Negeri Ngotjoleria”, maka secara otomatis menjadi anggota komunitas. Memang sih iseng aja, termasuk dengan membentuk kabinet main-mainan segala. Tapi akhirnya banyak di antara teman yang justru memproklamirkan melalui profilnya. Saya pikir ini adalah trend baru dan tidak salah. Karena mereka itu tujuannya untuk semakin memperakrab pertemanan. He he heee…

Selain itu, saya juga memanfaatkan jaringan lain seperti Twitter dan Facebook (termasuk grup dan penggemar) untuk mengundang pembaca. Semuanya itu untuk pertemanan dan keakraban. Popularitas hanyalah konsekuensi dari pergaulan virtual.

Andy Syoekry Amal

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: