Skip to content

Ada Jin di Balik Tabungan Petani Rp 13 Triliun!?

Februari 26, 2010

fsagfTULISAN ini adalah lanjutan tulisan sebelumnya, “Saldo Rekening Saya Bertambah Rp. 13 Triliun!”.

Terus terang saya masih merasa penasaran terutama dengan keterangan Koordinator Humas Bank Indonesia (BI) Makassar Widodo Cahyono tersebut yang terkesan meremehkan masalah ini. Dalam penjelelasannya, BI menganggap bahwa bertambahnya saldo H Alimin itu karena kesalahan petugas dalam mengentri data ke komputer. Katanya, pemeriksaan peneliti BI menemukan petugas Mandiri saat itu kebablasan mengetik angka nol yang sepatutnya hanya Rp 1.300.000 menjadi Rp 13.000.000.000.000. (lihat di SINI)

Yakinkan Anda ini salah ketik?

Terus terang, kalau saya sendiri merasa tidak yakin. Ketidakyakinan saya juga ternyata senada dengan berbagai komentar kompasianer dalam tulisan tersebut, salah satunya Fadli Noor. Dalam komentarnya Fadli merasa tidak yakin kalau itu adalah salah ketik dengan berdasar pada pengalamannya menangani IT perbankan.

Menurutnya kesalahan ketik dieliminasi dengan berbagai cara, antara lain :

1. Transaksi dengan jumlah tertentu, tunai maupun non tunai disetting sesuai tingkat kewenangan. Misalnya di atas 500jt, menggunakan otorisasi supervisor, di atas 2 M otorisasi manager operasional, >5 M oleh kepala cabang, bla bla dan seterusnya…

2. Secara berkala dilakukan cash-count. Biasana seminggu sekali, pencocokan transaksi dengan uang cash di ruang khasanah.

3. Transaksi transfer biasanya menggunakan account perantara (escrow account), meskipun tampak dari nasabah ke nasabah, tp pembukuannya melalui escrow account itu. Tujuannya apabila terjadi down server atau disconnect antara client & host, bisa langsung ditelusuri unbalanced yg ada di escrow account.

4. Setiap cabang biasanya memiliki aturan dana tunai yang boleh tersimpan di ruang khasanah, sisanya harus dikirim ke BI pada rekening kantor pusat. Biasanya cabang di daerah kalo ngga salah sampai 1 Milyar saja (mungkin sekarang sudah berubah). Jadi jika terjadi pencatatan setoran hingga 13 trilyun, pada tutup buku harian sistem langsung memberi warning bahwa uang cash yg ada telah melebihi aturan.

5. Apabila dana tersebut adalah dana transfer, harusnya itu tercatat dalam transaksi antar cabang, dan pasti juga akan muncul warning pada sistem yang ada di kantor pusat.

“Jadi kalau hanya kesalahan input, kayaknya keterlaluan deh… apalagi untuk bank sebesar Bank Mandiri,” komentar Fadli.

Semestinya, Bank Indonesia jangan langsung mengklaim bahwa ini salah ketik. Kalau salah ketik, siapa yang  melakukannya? Apa sanksinya?

Ini semua mesti jelas! Jika tidak, kesannya  pihak bank mempermainkan nasabahnya. Alasannya adalah, sejak kasus ini diketahui 2 November 2008, dana H Alimin yang berjumlah Rp. 5,7 juta juga ikut terblokir. Bahkan saldonya sempat pula berganti menjadi minus Rp 9 triliun. Wowww…! Ada apa di balik ini?

fdsds

Ini tentu tak bisa diangap sepele. Bagaimana seandainya kasus ini berdampak pada kejiwaan H Alimin? Pertanyaan ini penting karena banyak kasus gara-gara uang orang jadi gila. Mengetahui ada saldo “siluman” dengan jumlah yang triliunan begitu bisa saja mempengaruhi kejiwaan. Begitupula dengan mengetahui bahwa saldo itu ternyata minus triliunan. Jika tidak dijelaskan siapa yang menambah dan siapa yang mengurangi jumlah tersebut, maka jangan-jangan ini semua dilakukan oleh jin.

Pendek kata, ada jin di balik tabungan petani Rp 13 Triliun!?

Wallahua’lam bissawab


Ikuti juga tulisan Seksolog Mariska Lubis:

MERAIH PUNCAK KEPUASAN BERCINTA di  SINI

4 Komentar leave one →
  1. Afief permalink
    Februari 27, 2010 6:09 pm

    saya rasa kita harus berfikit yang rasional akan hal ini. Jika memang bukan kesalahan petugas, “mungkin” saja ini dikarenakan adanya sebuah bug/kesalahan kecil yang berakibat fatal pada software / sistem koputer yg digunakan. ini mungkin saja. Bahkan software pengolah angka milik microsoft (excel 2007) pun ada bug kecil yang berakibat fatal. tapi sidah ada update untuk memfixnya.

    • Maret 1, 2010 6:47 pm

      Boleh jadi demikian. Namun bagaimana pun juga, ini menyangkut soal profesionalisme…

  2. Maret 1, 2010 2:11 am

    Untuk saat ini yang rasional adalah berpikir kalau memang itu uang adalah uang rampokan. Sama halnya dengan kasus bank century bagaimana mungkin orang berpikir kalau itu hanya persoalan administratif. Ibarat orang sudah tau dia itu jelas-jelas profesinya sebagai penipu tetapi masih saja dipinjamin duit. Sebodoh itukah pejabat-pejabat yang mengelola keuangan di negara ini ????????10000x. ngga usah profesorlah yang menjadi pejabat, saya ajalah…… kalau cuma kucur-mengucurkan uang saya masih bisalah…….

  3. Maret 1, 2010 11:30 am

    Kasihan oom jinnya…..kok jadi dia yang disalahkan …hehehehehe

    WASPADA !! KEDATANGAN TUHAN YESUS SEMAKIN DEKAT

    http://www.penuai.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: