Skip to content

Koalisi Pecah Kongsi, SBY Bunuh Diri?

Februari 26, 2010

NASIB koalisi partai pendukung SBY ibaratnya sudah berada di titik nadir. Meski belum ada sikap resmi Presiden SBY, namun sikap para petinggi Partai Demokrat yang seolah-olah tidak lagi mengakui keberadaan mitra koalisinya menyusul tidak nurutnya sejumlah anggota, khususnya Golkar dan PKS, dalam pendapat akhir Pansus skandal Bank Century.

Kondisi ini tampaknya semakin menguatkan indikasi bahwa koalisi ini akan pecah kongsi. Apalagi selama proses Pansus, Demokrat terkesan selalu menggertak mitra koalisinya, antara lain dengan mendesak agar Presiden SBY mereshuffle menterinya yang berasal dari Golkar dan PKS.

Seandainya Presiden mengikuti keinginan Partai Demokrat  dan lantas kemudian pecah kongsi, maka konsekuensi tentu saja tidak kecil. Sejumlah pengamat malah mengkhawatirkan pemerintahan SBY mendatang akan goyang jika hal ini dilakukan. Kekhawatiran ini cukup beralasan, terutama Golkar dan PKS merupakan partai yang menguatkan koalisi yang dibangun SBY. Akan tetapi yang namanya politik terkadang susah diprediksikan. Karena selain kepentingan, tidak ada kawan atau lawan yang abadi.

Dalam konteks ini Demokrat sepertinya kebakaran jenggot lantaran mitra koalisinya, khususnya Golkar dan PKS yang dianggap bandel itu. Apalagi kedua partai tersebut secara kasat mata telah telah menunjukkan sikap  yang jelas-jelas berseberangan. Meski demikian Demokrat juga mesti menyadari bahwa apa yang dilakukan PKS dan Golkar bukannya tanpa dasar. Justru kedua partai ini menganggap  bahwa ia justru mengejawantahkan komitmennya dengan SBY untuk menciptakan pemerintahan yang bersih,  antara lain dengan membuka kasus Century sejelas-jelasnya agar terang-benderang.

Untuk menyelesaikan problem koalisi ini, Presiden Yudhoyono maupun Demokrat tidak perlu menonjolkan pendekatan power dan ancaman. Karena jika ini dilakukan, publik bisa saja menilai bahwa Presiden SBY sendiri yang tidak konsisten. Apalagi, partai anggota koalisi yang digertak tersebut tersebut tampaknya tidak juga takut. Mereka malah balik mengancam SBY dan Partai Demokrat  dengan mengatakan akan atau siap keluar dari koalisi.

Akan tetapi, bagi rakyat keseluruhan, menurut pengamat politik LIPI Ikrar Nusa Bhakti seperti dikutip Kompas (18/2), jika koalisi ini pecah kongsi justru akan menimbulkan iklim yang baik di dalam sistem politik Indonesia, di mana akan ada kesejajaran kekuatan antara eksekutif dan legislatif sehingga proses checks and balances dapat berjalan normal. Namun, bagi Presiden Yudhoyono, ia akan sulit mengelola pemerintahan di dalam situasi anggota DPR dari partainya yang belum memiliki kecanggihan di dalam berpolitik. Maka, menurutnya, kecil kemungkinan Presiden SBY akan mengikuti keinginan parpolnya untuk melakukan reshuffle kabinet yang berasal dari Golkar dan PKS.

Ikrar menilai penyelesaian konflik di dalam internal koalisi seharusnya dilakukan Yudhoyono melalui cara berdialog langsung dengan para elite partai pendukung koalisi. Melalui proses ini akan terjadi kesepahaman dan penyelesaian politik yang saling menguntungkan, apakah bentuknya symmetric win-win solution ataupun asymmetric win-win solution. Pendekatan zero sum game menuju pada win-lose atau lose-lose solutions tentunya tidak menguntungkan koalisi.

Artinya, meskipun keduanya saat ini sedang berbeda pendapat dengan Demokrat dan bersikap lebih kritis menilai kebijakan pemerintah dalam kasus bailout Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun, reshuffle ini kecil kemungkiannya akan dilakukan. Bahkan tidak jarang yang berpandangan bahwa jika ini dilakukan lantas koalisi benar-benar pecah kongsi, maka SBY sama saja dengan bunuh diri secara politik. Benarkah?

Walahua’lambissawab

Salam Kompasiana

Kunjungi kami di SINI

Terima kasih

Baca juga 10 Artikel Pilihan Lainnya:

  1. Guling-Guling Goyang Gelinjang
  2. Air Mata si Buaya
  3. Mariska Lubis, Menemukan Tuhan di Buku Seks
  4. Menemukan Tuhan Lewat Seks
  5. Gila! ML Berjamaah buat Cetak Rekor Dunia
  6. Wow! Bu Bupati dan Pak Wakil Selingkuh?
  7. Duh! 62,7 % Siswi Sudah tak Perawan?
  8. Seks dan Kopi Hangat
  9. Gara-gara Ngaku Lajang di Fesbuk…
  10. Sensualitas Politik


2 Komentar leave one →
  1. Februari 26, 2010 2:34 am

    pusing pusing pusing…..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: