Skip to content

Presiden SBY Nggak Laki?

Februari 26, 2010

DESAKAN sejumlah tokoh agar Wapres Boediono (Pak Boed) dan Menteri Keuangan Sri Mulyani (Mbak Ani) untuk mundur dari jabatan terkait kasus bailout Bank Century menarik untuk dicermati. Menarik, karena secara hukum keduanya belum dinyatakan bersalah, sedangkan persepsi publik sudah terlanjur memvonisnya. Di satu sisi Pak Boed dan Mbak Ani bersikukuh merasa benar, sedangkan publik justru menyatakan sebaliknya.

Berbagai demonstrasi yang terjadi boleh jadi menunjukkan betapa persepsi publik tidak berpihak kepada Boed dan Mbak Ani. Sementara Presiden SBY juga terkesan tidak tegas. Saya katakan tidak tegas, karena di satu sisi beliau sendiri yang meminta kasus ini bisa dibuka selebar-lebarnya agar terang-benderang, sementara di sisi lain partainya, Demokrat, melakukan berbagai intrik politik. Pernyataan sejumlah petingginya yang mempersilakan PKS dan Golkar untuk angkat kaki dari koalisi dan menarik menterinya dari kabinet SBY-Boediono adalah bukti nyata.

Pertanyaannya di sini adalah, apakah intrik ini bukan bagian dari skenario SBY sendiri? Jika bukan, mengapa SBY terkesan melakukan pembiaran?  Bukankah kicauan Demokrat selama ini sangat kontraproduktif dengan keinginan SBY sendiri untuk membuka kasus Century menjadi terang-benderang ?

Semua pertanyaan ini sepertinya perlu dijawab sendiri oleh SBY. Betapapun juga, rasanya sulit untuk tidak percaya bahwa segala intrik Demokrat, termasuk soal gertakan akan reshufle kabinet selama i ni tidak diketahui oleh SBY. Akan tetapi jika mengetahui, pertanyaan selanjutnya adalah mengapa SBY tidak menegur Demokrat? Apakah SBY tidak menyadari bahwa dengan tidak adanya peneguran dapat diinterpretasikan oleh Demokrat sebagai sebuah restu? Atau apakah memang SBY merestui Demokrat untuk itu?

Selain itu, publik saat ini akan menguji sikap Presiden SBY yang sesungguhnya. Apakah memihak publik atau Boediono-Ani. Jika memihak publik, maka parameternya adalah beliau harus mengambil tindakan untuk memberhentikan Boediono-Ani dari jabatannya. Dengan memberhentikan keduanya, sepertinya publik akan puas. Ini jika melihat maraknya aksi demonstrasi dengan target meminta kedua pembantu presiden tersebut mundur.

Pertanyaannya sekarang apakah SBY berani memberhentikan kedua pembantunya itu? Tentu saja hal ini memerlukan keberanian besar dari presiden. Terlebih lagi untuk melepas Boediono yang dipilih rakyat dalam satu paket dengan SBY saat pilpres lalu. Namun jika tidak, sepertinya resikonya akan lebih besar. Bisa saja gelombang demonstrasi yang sekarang hanya ribuan bisa menjadi puluhan ribu.

Jika ini yang terjadi dan berlarut-larut, maka SBY juga akan rugi sendiri karena sudah pasti akan terganggu. Ia tidak akan bisa bekerja dengan baik. Begitupula dengan kedua pembantunya tersebut. Pertanyaannya,  untuk apa lagi Presiden mempertahankan dua orang pembantunya jika nantinya tidak akan bisa bekerja secara baik? Untuk apa Boediono dan Sri Mulyani dipertahankan jika publik sudah tidak menghendaki? Bukankah mereka bekerja untuk kepentingan publik?

Sudahlah, rakyat sudah capek. Terlalu banyak energi anak bangsa yang terkuras. Publik pun sebenarnya menyadari bahwa belum tentu pula kedua orang tersebut, baik Pak Boediono maupun Mbak Ani benar-benar bersalah. Tapi begitulah realita politik, persepsi terkadang menjadi lebih penting dari kebenaran. Seperti juga dengan adanya persepsi yang menganggap Presiden SBY itu nggak laki lantaran dianggap melakukan pembiaran selain dianggap ragu mengambil keputusan yang menjadikan masalah ini menjadi berlarut-larut!

Benarkan Presiden SBY nggak laki???!!!

Walahua’lambissawab

Salam Kompasiana

Kunjungi kami di SINI

Baca juga 10 Artikel Pilihan Lainnya:

  1. Perempuan Pemerhati Mr. “P” Angkat Bicara
  2. Guling-Guling Goyang Gelinjang
  3. Mariska Lubis, Menemukan Tuhan di Buku Seks
  4. Menemukan Tuhan Lewat Seks
  5. Gila! ML Berjamaah buat Cetak Rekor Dunia
  6. Wow! Bu Bupati dan Pak Wakil Selingkuh?
  7. Duh! 62,7 % Siswi Sudah tak Perawan?
  8. Seks dan Kopi Hangat
  9. Gara-gara Ngaku Lajang di Fesbuk…
  10. Sensualitas Politik
2 Komentar leave one →
  1. Februari 26, 2010 6:04 am

    weh., kok kayak iklan kopi..🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: