Skip to content

Konspirasi Seks dan Politik ala ML

Maret 8, 2010

hfhfh

Times edisi Oktober 1991 Illustrasi: Google

Apa hubungan seks dan politik?! Jauh banget, ya?! Padahal dekat banget!!! Malah sudah satu tubuh!!! Mereka sudah lama, tuh, melangsungkan perkawinan. Hasil dari perkawinan mereka pun sudah banyak sekali. Nggak percaya?!

Membaca tulisan Bang Risman alias rismanaceh yang berjudul “Sensualitas Politik“, membuat saya menjadi bergairah untuk menuliskan tulisan tentang seks dan politik. Rasanya gemas banget!!! Sudah lama saya tidak menulis artikel tentang politik di media massa. Kangen juga!!!

Seperti yang kita ketahui dan rasakan juga, kondisi politik negara kita sedang dalam keadaan tidak menentu. Begitu juga dengan keadaan ekonomi, sosial, dan budaya serta pendidikan dan kesehatan. Semuanya, deh!!! Semua sangat tidak jelas arah dan tujuannya. Kita tidak memiliki kepastian apapun atas segala kemungkinan yang terjadi. Hanya ada satu kemungkinan besar yang hampir dapat dipastikan. Keributan besar. Tidak ada maksud untuk memprovokasi, lho!!! Ini berdasarkan pengamatan saya saja. Bisa benar bisa juga salah. Maklum, deh, tukang seks kalau bicara politik suka asal!!! Mudah-mudahan saja ini salah, ya!!!

Menurut saya, nih, apa yang terjadi sekarang ini sangat erat hubungannya dengan seks. Kita memang sudah sejak lama mengawinkan seks dengan politik. Seks yang merupakan sumber kekuatan dimanfaatkan oleh politik dan digunakan untuk kepentingan politik juga. Buktinya?! Banyak sekali!!!

Untuk topik seksual dan sensualitas sudah dibahaslah, ya, oleh Bang Risman. Saya mengambil bukti yang lain, deh!!! Soal undang-undang perkawinan yang berlaku di negara kita ini. Perkawinan sudah pasti bagian dari seks, dong, ya!!! Perkawinan yang tercatat oleh negara juga merupakan salah satu alat untuk mengetahui identitas penduduknya sekaligus mengontrol penduduknya. Kenapa mengontrol?! Ya, kan, jadinya bisa memprediksi akan terlahir berapa anak yang akan terlahir sebagai generasi penerus. Dari daerah mana? Dari suku apa? Kelas berapa? agama apa? Dan masih banyak lagi. Sangat banyak yang dapat diketahui dari pencatatan perkawinan ini. Dari data inilah kemudian bisa dibuat kesimpulan atas tindakan apa yang harus dilakukan demi kepentingan politik. Lahirnya undang-undang, kan, tidak sembarangan begitu saja. Ada banyak unsur terkait perihal kepentingan tertentu.

Hebatnya lagi adalah promosi mengenai hasil pencatatan ini. Segala daya upaya dipergunakan agar tujuan bisa tercapai. Kalau memang tujuannya baik, sih, nggak masalah. Kalau tujuannya untuk kepentingan kelompok tertentu, ini sangat berbahaya. Sangat merusak dan memiliki potensi besar dalam menghancurkan bangsa dan negara. Ditunjang pula oleh berbagai tindakan strategis lainnya yang “menutup” semua jalan agar terfokus pada tujuan ini. Kebenaran pun bisa diputarbalikkan dengan mudahnya, kok!!! Pendidikan adalah kata kuncinya.

Coba pikirkan lagi, bagaimana pembodohan dilakukan di negara kita ini?! Sejarah sudah tidak jelas mana yang benar mana yang salah. Sejarah dianggap tidak penting dengan membuatnya menjadi tidak menarik untuk dipelajari. Juga ilmu-ilmu sosial lainnya yang berkaitan erat dengn fakta sejarah dibuat sedemikian rupa sehingga tidak ada yang mau mempelajarinya secara lebih mendalam. Pendidikan lalu dihubung-hubungkan dengan lapangan pekerjaan. Di mana sekarang faktanya, orang sekolah hanya untuk mendapatkan pekerjaan. Orientasinya bukan untuk mendapatkan pendidikan, tetapi mendapatkan kerja dan kedudukan yang layak. Apa ini benar?! Seharusnya tidak begitu, kan?! Tidak heran bila kualitas pendidikan kita merosot terus. Sudah tidak benar lagi, sih!!!

Pemutarbalikkan pemikiran juga tidak hanya dilakukan dari pendidikan formal saja, tetapi juga menyeluruh. Di mana ada kesempatan, di situlah diambil celahnya. Perbedaan agama dan keyakinan merupakan celah dan lubang besarr yang paling menarik untuk dimasuki. Sangat mudah soalnya untuk memprovokasi penduduk di negara ini lewat agama. Buat saja peraturan tentang perkawinan yang mewajibkan satu agama dengan alasan keabsahan perkawinan dari segi agama. Halal tidaknya perkawinan hanya dilihat dari satu sisi pandang saja. Bukan secara menyeluruh. Masalah tentang seks pun lalu hanya dikaitkan dengan soal persetubuhan saja. Hal yang lebih penting lainnya diabaikan sama sekali. Kebenaran pun diputarbalikkan menjadi pembenaran.

Pertanyaan saya mudah saja, siapa di antara kita yang tidak yakin kalau jodoh itu di tangan Tuhan?! Kalau memang semua yakin, lalu kenapa manusia bisa menentukan?! Itu saja cukup. Silahkan berpikir kembali, ya?!

Kalau sudah begini, apa yang terjadi. Perpecahanlah, ya, pastinya. Ditambah dengan pembodohan tadi, semuanya jadi berjalan lebih lancar. Maka jadilah kita seperti sekarang ini. Selalu ribut dan sulit untuk bersatu. Semuanya dibuat untuk menjadi egois dan mementingan kepentingan masing-masing. Nah, kalau sudah begini, mereka akan dengan mudahnya masuk dan mendominasi. Melakukan apa yang menjadi tujuan mereka. Siapa coba yang akan menyadarinya?! Yang diributkan soal yang lain, sih!!! Siapa yang mudeng?! Paling hanya segelintir orang saja. Tidak sebanding dengan mereka yang larut dengan permainan ini.

Nah, sudah jelas, kan, sekarang apa hubungannya seks dan politik. Makanya saya berpendapat bahwa seks adalah titik awal. Bisa dijadikan dasar untuk memainkan segala permainan dalam kehidupan ini bila seks itu sendiri tidak dipahami dan dipelajari dengan baik dan sungguh-sungguh. Ini juga tidak hanya terjadi di negara kita, lho!!! Seks dan politik adalah permainan dunia. Sangat mendunia. Bukan hanya seks untuk manusia saja, tetapi juga makhluk hidup lainnya. Pernahkah terpikir bagaimana sampai terjadi mutasi genetik terhadap spesies tertentu untuk kemudian digunakan sebagai alat untuk berperang?! Bagaimana mereka memulainya?! Hmmm… apalagi kalau bukan seks. Dahsyat banget, kan?!

Yah, ini teori konspirasi seks dan politik ala tukang seks saja. Sekali lagi, ini bisa benar bisa juga salah. Mohon dimaklumi, ya!!! Tukang seks kalau bicara politik suka nggak nyambung!!! Hehehe…. Mudah-mudahan saja ini masih bisa ada manfaatnya agar kita tidak lagi bisa dipecah belah dan menjadikan para pemain itu menjadi pemenangnya!!! Boleh, dong, berharap biarpun cemas.

Salam Kompasiana,

Mariska Lubis

Baca juga 10 Artikel Pilihan Lainnya:

  1. Seni, Seks, dan Revolusi?! Kenapa Tidak?!
  2. Atas Nama Cinta, Saya Hamil dan Dia Dipenjara
  3. Mengintip Malam Pertama Pengantin Turki
  4. Menemukan Tuhan Lewat Seks
  5. Biarkan Payudaraku Tetap Basah!
  6. Duh! 62,7 % Siswi Sudah tak Perawan?
  7. Bugil Massal, Seni Pembangkit Syahwat
  8. 28% Pria Indonesia Ketagihan Nonton Film Porno?
  9. Wow! Orgasme Ratusan Kali Sehari?
  10. Seks “Tiga Rettong” ala ABG Palopo
4 Komentar leave one →
  1. alice pngen gituan permalink
    Maret 8, 2010 6:07 am

    ada2 aj nieh

  2. Maret 10, 2010 12:02 pm

    wong tulisan bagus gini, masa gak nyambung sich dear. 😀

    umum mengatakan. bicara soal seks sama garing dan renyahnya dengan bicara soal politik. gener apa gak !

    sebab didalamnya ada ( jangan ngakak ! )

    – ada basah2 dan lengket…………….shhhhhhhh
    – ada sedikit kering biar seret,…….. akhhhhhhh
    – ada panas membara, nah loh !
    – ada strategi,…….hem…..
    – ada tujuan,…………. ini dia

    itu rangkuman ku utk dua hal ini seks politica or politicus sex !, akh si della kalau di -ikutin mah rese pisan😀

    • Maret 11, 2010 2:32 am

      hahahhahahhaha… saya mempelajari seks dan juga politik yang menurut saya sangat berhubungan erat di mana seks tidak pernah lepas dari kehidupan politik dan seks juga selalu dipenuhi dengan politik… hehehhehehehe

      terima kasih ya mbak… luv you so much!!!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: